Siapa sih yang masih nggak tau apa itu Gojek, Grab-Bike dan Uber? Ketiganya sudah setengah tahun belakangan menjadi transportasi favorit warga Indonesia. Meski baru beberapa Kota besar yang mempunyai moda transportasi berbasis online ini, namun nyatanya transportasi yang tidak hanya roda dua tersebut di nilai merugikan sebagian kalangan.

Mungkin kamu termasuk kepada masyarakat yang tertolong dan merasa sangat terbantu dengan adanya transportasi online. Namun tidak hal nya dengan para ojek pangkalan. Dengan adanya ojek-ojek online penghasilan mereka turun drastis dari biasanya. Bagaimana tidak, ojek pangkalan hanya menunggu di pangkalan. Sedangkan mereka (pelanggan) ojek justru lebih memilih untuk di jemput di lokasi daripada harus berjalan ke pangkalan ojek.

Tentunya hal ini menjadi pisau bermata dua, yang seketika bisa menghujam kedua belah pihak. Di satu sisi, para konsumen merasa sangat senang dan terbantu. Namun di lain pihak bagi mereka para ojek pangkalan, ojek online adalah “pembunuh” mata pencarian mereka. Mau nggak mau, mereka yang nggak ngerti cara pakai gadget harus belajar cepat jika tidak mau makin tergusur. Tapi memang agaknya hal itu sulit untuk mereka lakukan (para ojek pangkalan yang mayoritas sudah berumur 40 tahunan ke atas). Alhasil, timbullah larangan-larangan untuk tidak memakai jasa ojek online di beberapa kawasan.

Tidak hanya kendaraan roda dua yang sudah berbasis online. Belakangan mereka merambat ke kendaraan roda empat. Lagi-lagi terjadi banyak pertentangan dan lagi-lagi ada yang di rugikan. Pihak yang dirugikan dalam permasalahan ini adalah para supir angkutan umum (angkot, bus dan terutama taksi). Taksilah yang di nilai jadi pihak yang paling di rugikan. Alasannya jelas, jika dulu kita tidak punya mobil pribadi tapi nggak mau kepanasan dan bedesak-desakan di atas transportasi umum, tentulah kita akan memilih menaiki taksi.

Tapi itu dulu, sekarang meski kita belum juga punya mobil (makanya nabung, hehe) kita bisa naik mobil dan diantar ke tempat tujuan. Bukan sewa mobil loh, tarifnya hanya pada saat perjalanan itu aja kok. Malah kesan mewah yang kita dapat, udah naik mobil pribadi (karena nggak ada branding pada bagian mobilnya) di supirin pula. Ya syukur-syukur dapat driver nya masih muda, ganteng dan wangi juga. Bisa di kira itu pacar atau gebetan kamu kan, menang banyak deh.

Namun kembali lagi ke pokok persoalan, para pelaku di industri tersebut di nilai ilegal bagi para supir angkutan umum. Karena mereka tidak harus membayar pajak yang semestinya dilakukan oleh mereka yang jelas statusnya sebagai angkutan umum. Akhirnya kembali semua keputusan ada di tangan kamu. Tapi setidaknya setelah membaca artikel ini, kamu menjadi sadar kembali bahwa ada pihak-pihak yang dirugikan dengan adanya transportasi online tersebut.

 

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>