Polusi Semakin Memburuk Di Jakarta Saat Malam Hari

Jakarta, bagi kalian yang tinggal di Jakarta mungkin telah mengetahui tentang seberapa tinggi tingkat polusinya di Jakarta.

Kemarin pagi 25 Juli 2019, sekitar pukul 06.00 WIB, data AirVisual situs penyedia peta polusi online harian kota-kota besar diseluruh dunia, menunjukkan Nilai Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta berada di 201 atau masuk di kategori sangat tidak sehat.

Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang berfungsi mengukur Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di KLHK, GBK, Jakarta menunjukkan kualitas udara di ibu kota tidak sehat sejak dari pukul 24.00 WIB, Kamis 25 Juli 2019.

“Data KLHK pun, (bisa dilihat di link http://iku.menlhk.go.id/aqms/pm25) sejak jam 12.00 malam tadi (udara) tidak sehat dengan angka PM 2,5 di atas 100 ug/m3,” Kata Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia, Kamis 25 Juni 2019.

Terkait dengan kualitas udara yang ternyata memburuk sejak jam 24.00 WIB, diduga ada keterkaitannya dengan cuaca.

“Selain cuaca, bisa jadi kalau asumsinya di jam tersebut tidak ada kendaraan (Tidak macet) artinya, ada sumber pencemar lain. DKI juga bilang kalau selain transportasi ada sumber lain” Ucap Bondan.

Berkaitan dengan faktor cuaca yang menimbulkan masalah polusi udara pada malam hari di Jakarta, Kepala Subbidang Prediksi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Agie Wandala Putra menjelaskan kondisi atmosfer di Jakarta belakangan. Jika Anda tinggal di Jakarta atau pernah tinggal di ibu kota, mungkin sudah tidak asing dengan pemandangan langit Jakarta yang bergradasi, antara biru dan putih kelabu.

Agie menjelaskan, langit Jakarta dengan warna putih kelabu sebenarnya adalah polutan.

 “Layer warna putih kelabu itu polutan sebenarnya. Udara kering yang menyatu dengan asap kendaraan, cerobong asap, dan lain-lain,” ungkap Agie kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Jumat (26/7/2019).

 Berdasarkan data BMKG kemarin, Agie mengatakan kualitas udara di Jakarta tidak seburuk sebelumnya.

Data ini didapat dari alat bernama radiosonde (rason) yang dilepas setiap jam 9.00 sampai 10.00 pagi di dekat Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.

Rason berguna untuk mengukur tekanan, suhu, arah, kelembapan, dan kecepatan angin. Dari sinilah, BMKG dapat melihat karakter atmosfer langit Jakarta pada hari itu seperti apa.

“Jadi karakter berdasarkan atmosfernya sedang memiliki inversion layer atau lapisan inversi. Ini saya bicara atmosfer ya, bukan polutan,” ungkap Agie.

Lapisan inversi merupakan lapisan batas antara udara kering dan udara lembap.

Agie mengatakan, daerah-daerah yang memiliki lapisan inversi menandakan, asap atau polutan sulit terurai di atmosfer.

Sumber Foto : http://blj.co.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *