Rilis Awal 2020, Anak Garuda Diangkat Berdasarkan Kisah Nyata Millennial

Batu, Malang Jawa Timur menjadi saksi perjuangan Julian Eka Putra mewujudkan impiannya untuk meraih impiannya. Pasti perjuangan tak ada yang sia-sia, hingga pada akhirnya Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) – meraih penghargaan Kick Andy Heroes 2018. Tak sekadar menceritakan perjuangan Julianto Eka Putra sang inisiator, tetapi juga perjuangan siswa-siswi Sekolah SPI yang datang dari keluarga tidak mampu, untuk bersama mengubah nasib dan memutus rantai kemiskinan di keluarga mereka, hingga menjadi wirausahawan dengan omzet milyaran rupiah. Kisah-kisah di Sekolah SPI adalah kisah-kisah tentang perjuangan tak kenal menyerah, serta sinergi mengatasi perbedaan untuk maju bersama. Sebuah coming-of-age movie yang terinspirasi perjuangan para pahlawan millennial ini, diangkat ke layar lebar melalui tangan dingin penulis Alim Sudiodan besutan sutradara Faozan Rizal, berjudul “ANAK GARUDA”. Film yang baru menyelesaikan proses shooting di Batu Malang dan beberapa kota di Eropa ini, rencananya akan menghibur penonton Indonesia di awal 2020. Proses penggarapan film ini dilakukan Butterfly Pictures yang tak lain merupakan divisi usaha terbaru di Sekolah SPI yang mengkhususkan diri dalam produksi film. Seperti divisi usaha Sekolah SPI lainnya, unit bisnis ini juga dikelola langsung oleh alumni Sekolah SPI sambil menggandeng aktor watak papan atas Verdi Solaiman sebagai produser.

Sang Produser Verdi Solaiman mengaku terinspirasi perjuangan siswa-siswi SPI untuk menjadi wirausahawan sukses yang mampu memutus rantai kemiskinan dari keluarga mereka. “Siswa-siswi Sekolah SPI ini boleh dikatakan berjuang dari titik nol, atau bahkan minus untuk membalikan keadaan dan menjadi orang-orang yang berhasil. Dengan kemauan keras, kerja keras dan disiplin, mereka bisa membuktikan bahwa mereka mampu mengubah nasibnya. Kisah perjuangan anak-anak ini yang menurut saya harus disampaikan ke seluruh Indonesia, sebuah manifestasi sempurna dari Impian Indonesia (Indonesian Dream),” ungkap Verdi.

Tidak tanggung-tanggung untuk soundtrack film ini, Grup band Cokelat dipercaya untuk mengaransemen ulang lagu karya Julianto Eka Putra ini. “Kami di COKELAT, sangat percaya bahwa niat baik akan selalu menemukan jalannya tersendiri. Terbentuk dengan caranya sendiri. Kami tak pernah merencanakannya, tiba-tiba bertemu, dan kita (dengan YSPI) punya niat yang sama untuk membangun Indonesia. COKELAT meyakini, sebagai orang Indonesia, kita harus berkontribusi untuk bangsa kita. Karena COKELAT musisi, jadi yang bisa kita lakukan paling nyata adalah lewat musik. Mudah-mudahan hasil kolaborasi ini bisa menjadi penyemangat lagi, setelah bangsa kita sempat ‘terpecah terbagi dua’. Bisa menjadi satu lagi, menjadi ‘Anak Garuda’ yang tidak memandang perbedaan, maju sebagai bangsa yang kuat dan hebat, menjadi bangsa yang bisa kita banggakan,” ungkap Edwin Marshall mewakili personil Cokelat lainnya.

Sementara itu, salah satu pemain dalam film ini Tissa Biani yang berperan sebagai Sayyidah mengaku bahwa peran Sayyidah memberikan tantangan sendiri bagi karirnya. “Sayyidah adalah tokoh yang tidak pernah kehabisan ide dan semangat untuk maju, meskipun berangkat dari kondisi yang terpuruk, bahkan saat kecelakaan hampir merenggut nyawanya, tidak mampu menghentikan semangatnya untuk maju,” ungkap Tissa Biani.

Nah, sambil nungguin Anak Garuda hadir di bioskop kamu yuk saksikan film-film indonesia yang ada di Genflix. The Raid, Anak Hoki, Mantan, Garuda 19, Catatan Akhir Kuliah dan berbagai film menariknya bisa kamu saksikan hanya di www.genflix.co.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *